Tuesday, April 17, 2012

Satu Bulan


Hampir satu bulan aku telah meminang seorang wanita u/ menjadi pendamping hidup. Baru seumur jagung memang. Masih jauh perjalanan kami menaiki tangga demi tangga kehidupan yang akan kami lalui bersama. Aral melintang dan badai siap menerjang biduk kami kapan saja jika tak kami pancang dengan kokoh. Bukan hal yang mudah, namun harus kami siapkan untuk menguatkannya. Modal kami adalah cinta dan keimanan. Dia yg telah mempersatukan kami, Dia pula yg mampu menghujam bahtera kami dengan berbagai macam caranya jika kami jauh dari-Nya.

Aku telah menjadi suami orang. Seakan telinga dan pikiran ini masih asing dengan status baru yg telah kusandang. Semuanya seperti mimpi berkepanjangan. Status yg bukan sembarangan dimiliki banyak laki-laki. Karena status ini menuntut banyak hal. Salah satu terpentingnya adalah menjadi imam. Mendengar katanya saja sudah sangat berat. Perlahan, aku akan belajar memperbaiki diri u/ bisa memegang erat status yg kusandang ini dengan penuh tanggung jawab. Masih banyak yang harus aku pelajari. Namun, kuakan coba menyelesaikan semua PR yang ada satu demi satu.

Tuesday, April 10, 2012

Cinta


Jangan tanyakan padaku arti kata itu.
Aku tak mengerti maknanya, pun tak pandai menjelaskannya.
Tiap orang memiliki hak masing2 u/ menterjemahkan kata itu hingga berlembar-lembar kertas dihabiskan u/ mendeskripsikannya ataupun diceritakan hingga mulut berbusa.
Tapi aku berbeda. Sungguh, aku tak bisa. Mungkin aku memang bodoh.

Yang aku tahu hanya satu.
Cinta itu Dia. Dia Sang Maha Pemberi Cinta.
Cinta pada makhluk2-Nya.
Terutama pada makhluk yang bernama wanita yang memiliki nama Fitri Elvira Ananda.

Wednesday, October 5, 2011

IKHLAS

Ikhlas. Kata yang mudah terucap, terasa indah dan fasih tatkala didengar. Tapi, bukan perkara yang mudah untuk bisa memahami dan memiliki sifat ini. Ikhlas bisa bermakna banyak hal, pasrah/lapang dada/rela hati/tabah. Tentu saja sifat ini harus dipunyai oleh semua orang karena hadirnya sifat ini dalam diri akan menambah keyakinan dalam diri akan kuasa Allah yang nyata. Musibah, ujian, dan cobaan akan senantiasa datang sebagai penguji tingkat keyakinan diri pada Sang Pemberi Cobaan. Maka, ikhlas adalah kuncinya. Kita hadir ke dunia tanpa membawa apapun bahkan sehelai pakaian pun. Jika semua yang kita anggap memilikinya (harta ataupun orang-orang yang kita sayangi) hilang dan pergi, maka seyogyanya kita merelakannya tanpa harus merintih, kesal, marah, dsb. Toh, saat tiba waktunya kelak, tidak ada yang kita bawa selain amal yang kita perbuat selama hayat masih menghirup nafas.
Berusahalah selalu untuk ikhlas, yakinlah Allah lebih tahu apa yang tidak kita ketahui.

Tuesday, October 4, 2011

Hidup Kehidupan

Berbicara tentang hidup dan kehidupan tentu sangat kompleks. Akan menjadi sederhana jika dibekali tawakal dan syukur. Banyak orang yang berpikir dan merasa bahwa hidupnya yang paling sengsara, nista, menderita dibandingkan orang lain, Allah tidak sayang padanya, dsb. Padahal, apabila kita mau berhenti sejenak bergumam kesal dan berpikir bijak, kita tidak hidup sendiri. Hidup ini bukan hanya milik kita seorang diri, tapi milik seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Allah Yang Maha Besar tetap akan selalu melihat dan mendengar para setiap makhluknya dimanapun dan kapanpun makhluknya berada.
Orang pengangguran yang susah mendapat pekerjaan merasa kesal karena tidak ada satupun pekerjaan yang didapatkannya, orang yang bekerja merasa lelah dengan beban pekerjaannya hingga ingin berhenti bekerja.
Orang kaya diuji dengan cobaan harta kekayaannya, orang miskin diuji dengan kesabarannya.
Orang pandai diuji dengan kecerdasannya agar bisa mengamalkan ilmunya, orang yang kurang pandai diuji kesabaran dan semangatnya untuk mencari dan mempelajari ilmu dari orang pandai.
Baru-baru ini, kabar dari beberapa kawan yang berkeluarga yang sudah lama menginginkan buah hati, belum juga dikabulkan. Padahal, banyak para remaja/pemuda-pemudi yang berzina dan hamil, mau menggugurkan kandungannya.
Sahabat, jika kehidupan ini bukan ladang ujian, lantas apa? Jika kita kesal dan kecewa terhadap ujian yang Allah berikan, lantas bagaimana bisa dewasa dan derajat kita bisa tinggi di mata-Nya? Sungguh Allah Maha Adil, sangat mengetahui batas kemampuan tiap makhluk-Nya. Jika ujian yang datang semakin berat, yakinlah bahwa saat itu Allah sangat menyayangi kita dan memberikan kesempatan untuk semakin meninggikan derajat keimanan pada-Nya. Coz Allah is always by our sides.

Sunday, October 2, 2011

Syahrini vs Ayu Ting Ting

“Pemirsa, saat ini publik sedang demam Syahrini dan Ayu Ting-Ting”, ucap presenter infotainment  dengan nada khasnya yang menekan intonasi  pada setiap penggalan katanya. Memang benar, dimana-mana banyak orang yang menirukan kata-kata dan gaya bicara Syahrini dengan kata andalannya “Sesuatu banget ya” serta tak kalah heboh lagu Ayu Ting-Ting berjudul Alamat Palsu tak henti-hentinya terdengar di radio, tv, orang tua hingga anak-anak kecil yang mendendangkan lagu tersebut hingga telinga ini susah mencari perlindungan. Namun, mengapa tidak banyak yang bisa menghafal atau menirukan bacaan alqur’an, adzan, yang bisa terdengar lebih indah dari lagu tersebut. Pun, begitupun dengan ku. Apa memang pantas jika kita menjadi perindu surga, namun lebih menyukai mendengar lagu dangdut, pop, dsb daripada membaca atau sekedar mendengar lantunan alqur’an. Astaghfirullah.. Ampuni kami, Yaa Allah.. Kami memang tak pantas di surga, tetapi kami takut dan tak ingin masuk ke dalam neraka jahanam-Mu..

Saturday, October 1, 2011

KABAR GEMBIRA!!

Kawan, sedikit ku ingin berbagi tentang suatu hal. Suatu perasaan bahagia namun kecewa, suka cita tapi bingung, takut bercampur keinginan sangat untuk menjalani. Peristiwa besar telah terjadi pada seorang sahabat. Hal yang biasa, tapi momentum ini sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh banyak orang. Pernikahan.
Berita yang kudengar siang hari tadi, membuatku tak mengira kebenarannya. Berita bahagia itu kudengar dari sahabatku yang lain, tak lagi jadi istimewa, tapi kutetap bahagia atasnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, tambatan hatinya telah “ditemukan”. Terompet perayaan siap dibunyikan, petasan dan meriam bambu menunggu diledakkan, gaun pasangan pengantin tak sabar dikenakan oleh sepasang manusia yang akan menyempurnakan separuh din-nya. Sorak sorai, ucap selamat dan doa pun membahana. Sungguh momen indah yang memang sangat patut ditunggu.
Saat ku menilik di depan kaca jendela yang suram, ada bayangan seorang pemuda seperti tertunduk lesu karena melihat gerangan diri. Sudah waktunya pula baginya tak lagi sendiri. Bukan karena malu ataupun ikut-ikutan teman, bukan pula mendapat paksaan, sindiran, dan gunjingan orang lain. Tapi ini karena perintah agama. Menyegerakan perbuatan baik, maka segerakanlah.
Ku tak sabar menanti hal serupa terjadi pada diri ini. Kupegang erat-erat kemantapan hati atas hasil istikharahku selama beberapa hari ini. Semoga memang benar dia yang salama ini kucari dan kunanti. Dengan bekal nama, foto, dan keyakinan hati ini, insya allah kusiap melangkah ke tahap kehidupan selanjutnya. Ada keraguan, kebingungan, dan ketakutan dalam hati. Mungkin ini buah karya para penggoda hati yang tak ingin menjadikan  diri taat pada perintah Illahi. Kuserahkan semuanya pada-Mu, Yaa Rabbii..

Saturday, September 17, 2011

Artikel tentang? Hmmm...

Saya pernah ditanya tentang bagaimana cara mengidentifikasi akhawat yang “asli” di zaman sekarang? Karena kini banyak akhawat berjilbab panjang namun kok masih titik-titik. Padahal ikhwah aktivis da’wah yang haraki inginkan pendamping yang haraki pula.

Nah, disinilah manfaat ta’aruf, agar kita tidak terjebak pada ghurur. Ta’aruf bukan sekedar formalitas saja namun benar-benar dilaksanakan untuk saling mengenal, mencari informasi akhlak, kondisi keluarga, saling menimbang, dsb. Permasalahan sesungguhnya bukanlah pada akhawat “yang asli” atau “tidak asli” namun terkait kepada pemahaman kita bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui kadar keimanan seseorang, terlepas dari penampilannya. Walau pemakaian jilbab adalah juga cermin keimanan.

Pemahaman
“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….”(QS. An Nuur [24]: 26)

Ayat di atas adalah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya. Berdasarkan ayat tersebut, Allah swt telah menetapkan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, demikian pula sebaliknya. Jadi kita tak perlu khawatir akan mendapatkan pendamping yang tak sekufu agamanya karena sesungguhnya semuanya bermula dari diri kita sendiri. Sudahkah kita beragama dengan baik? Bagaimana kadar keimanan kita?

Identifikasi
1. Akhlak
Akhawat berjilbab panjang dan lebar belum tentu lebih baik dari yang berjilbab biasa-biasa saja. (maksudnya, “biasa-biasa “ tapi tetap mencukupi kriteria syar’i jilbab). Menilai baik tidaknya agama seseorang tidak bisa dilihat dari panjangnya jilbab, tidak bisa dilihat dari banyaknya shalat, rajinnya puasa, gelar hajjah, dan sebagainya. Karena banyak orang yang rajin shalat tapi suka ghibah, berpuasa tapi durhaka pada orang tua, bergelar hajjah tapi tidak amanah.
Agama bukan pula diidentifikasikan dari luasnya pengetahuan agama (tsaqofah). Karena banyak missionaris yang pengetahuan agamanya lebih luas dibandingkan umat Islam sendiri. Agama bukan pula dilihat dari banyaknya hafalan Al Qur’an karena Snouck Hongruje pun, khatam hafalan Qur’an.

Ukuran agama adalah akhlak. Iman itu adanya di dalam hati. Dan tentu saja tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah namun iman yang benar-benar menyala di dalam hati, cahayanya pasti akan memancar keluar, yaitu dalam bentuk akhlak. Pancaran cahaya keimanan inilah yang harus kita cari. Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat dan kedudukan yg tinggi di akhirat, walaupun ibadahnya sedikit“.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda mengenai wanita ahli ibadah yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing hingga mati. Dan di hadits lainnya, ada wanita pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yg kehausan. Ini menandakan bahwa tak ada yang mengetahui kebaikan hakiki seseorang karena taqwa itu adanya di sini (di hati). Umat Nabi Muhammad itu seperti air hujan yang tak dapat diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.

Ingatlah kisah Nabi Daud ketika sedang bersama murid-muridnya dalam sebuah halaqah dan kemudian datang seorang laki-laki yang baik pakaiannya, terlihat sangat sholeh hingga membuat murid-murid Nabi Daud bersimpati dan kagum. Namun ternyata ia adalah seorang munafiq dan Nabi Daud mengetahui hal itu dari akhlaknya saat orang tersebut memasuki masjid dengan kaki kiri, tangisannya di depan umum, dan ucapan salamnya kepada halaqah yang sudah dimulai.

Niat Mempengaruhi Keberkahan
Wanita dinikahi karena empat perkara : Kecantikan, nasab, harta, agama. Namun pilihlah karena agamanya agar berkah kedua tanganmu. Tidaklah salah bila para ikhwan menentukan standar atau kriteria calonnya. Namun hendaknya kriteria tersebut proporsional, tidak muluk dan jangan mempersulit diri sendiri. Mengharapkan sosok yang sempurna dan super ideal sangatlah jarang bahkan mungkin tidak ada. Dan bila sampai kesempurnaan yg dicari tidak ditemukan pada sosok sang kekasih, maka akan menimbulkan kekecewaan. Sesungguhnya ketidaksempurnaan adalah wujud kesempurnaan. Syukurilah karunia-Nya, jangan terlalu banyak menuntut. Jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. Bukankah pernikahan itu seperti pakaian yang saling melindungi dan menutupi kekurangan. Saling menerima kelebihan dan kekurangan. “Sesungguhnya amal dinilai berdasarkan niatnya.“
Asy Syahid Imad Aqil, mujahid Palestina pernah berkata : “ Riya lebih aku takuti dari tentara-tentara Israel.“ Dan pepatah mengatakan “ Tentara terdepanmu adalah keikhlasan. “

Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena ingin menutupi farjinya dan mempererat silaturahmi maka Allah akan memberikan barakah-Nya kepada keduanya (suami isteri )“

Istikharah
Jangan lupa istikharah untuk mendapatkan kemantapan. Seperti sebuah bait puisi, “Bariskan harapan pada istikharah sepenuh hati ikhlas. Relakan Allah pilihkan untukmu. Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya. Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah. Mungkin kebaikan itu bukan pada orang yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih. Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi. Kekasih tempat orang-orang beriman memberi semua cinta dan menerima cinta.” [ANW]
2. Hati yg Lembut.
Salah satu ciri jundullah adalah, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yg murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mu’min, bersikap keras terhadap orang-orang kafir…”

Kepada saudaranya yang mu’min ia akan berkasih sayang, saling menasehati dan tidak akan merendahkan saudaranya seiman. Hati yang lembut dapat terlihat dari keridhoannya menerima kebenaran (Al Haq). Ia akan mudah untuk menerima nasehat dan segera memperbaiki kesalahannya. Hati yang keras tidak akan rela untuk menerima nasehat dan terus berkubang dalam kesalahan. Hati yang lembut dapat mencegah mulut dan tangannya dari menzalimi orang lain.

Syarat Seorang Informan
Untuk mengetahui akhlak akhawat/ikhwan, tentu kita harus menanyakannya kepada orang lain. Ini dikarenakan kita tidak mengenal baik akhawat/ikhwan tersebut. Lalu kepada siapakah kita bertanya? Tanyakanlah kepada orang-orang terdekatnya. Namun orang yang terdekat ini bukanlah sembarang orang. Di bawah ini adalah tips dari Umar bin Khattab untuk mengetahui apakah orang tersebut benar-benar mengenal akhwat/ikhwan yang dimaksud. Yaitu :
1. Ia sudah melakukan mabit atau safar dengan akhwat tersebut sehingga mengetahui persis akhlaknya.
2. Ia sudah melakukan hubungan finance (muamalah) dengan akhwat tersebut sehingga dapat terlihat apakah ia amanah.
3. Ia sudah menyaksikan akhwat tersebut menahan amarah karena ketika orang marah akhlak aslinya akan terlihat, baik ataukah buruk.